Bicara Tentang Sress

Sekitar tahun lalu, saya membaca sebuah fiksi pendek via Wattpad yang sangat menarik. Bukan novel yang panjang dan berlika-liku ruwet, namun meninggalkan kesan mendalam dan memorablehit a little bit too close to home.  Maka ketika sebuah buku dengan sisipan cerita itu di dalamnya terbit, saya segera membelinya. Saya membacanya berulang-ulang setelah buku itu tiba di pangkuan tangan saya. Saya sulit berkata-kata sebagai review, karena terlalu bagus. Sederhana sekaligus kompleks, saya benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaan membuncah bahkan setelah membacanya berkali-kali untuk beberapa bulan.

Karya fiksi itu berjudul Kortisol, diciptakan oleh @felice_pen(work-nya telah di-takedown karena diterbitkan). Berdasarkan pengetahuan terbatas saya setahun yang lalu, kortisol adalah hormon yang bertolak belakang dengan dopamine dan serotonin. Gampangnya, setahu saya,  kortisol adalah hormon pemicu kesedihan dan stress, sementara rush of dopamine dan serotonin mengundang kebahagiaan dan satisfaction. Pastinya penjelasannya lebih komplekes, namun, hanya itu saja yang saya ketahui masa itu.

Menjelang semester terakhir SMA, saya mulai disibukkan dengan kegiatan sekolah yang padat, ujian sekolah, dan persiapan tes perguruan tinggi, sehingga saya jarang lagi membaca buku. Saya kemudian memutuskan untuk mengambil gap year, dan dengan waktu luang yang banyak, saya menata ulang buku-buku di rumah. Selagi saya menulis ini, beberapa(sebenarnya banyak) buku-buku masih berserakan di meja. Pasalnya tiap hendak meletakkan ke lemari, rasanya tiap buku menggoda saya untuk membaca ulang dan merasai nostalgia.

Tangan saya sampai pada buku dengan sisipan cerita berjudul Kortisol di dalamnya, membacanya ulang, menempuh kembali perasaan kompleks yang tidak bisa saya deskripsikan. Spoiler ahead, dialog ini menjabarkan penyebab semua tragedi yang terjadi di antara dua protagonis:

Dengar, kamu kesulitan membedakan mana khayalanmu dan mana realitanya, bukan? Kamu punya gangguan demensia dari gula darahmu yang rendah, kamu punya masalah pada ingatanmu yang lemah, jadwal tidurmu kacau dan jika saya tidak di sini, saya yakin kamu tidak akan pernah tidur dan hanya sesekali tidur belasan jam dari efek obat tidur yang kamu campur alkohol.

Protagonis utama mengalami stress berat karena suaminya yang bekerja jauh dari rumah. Badannya sakit-sakitan, semakin melemah setiap hari, sulit tidur tanpa pengaruh obat, dan nafsu makan tidak menentu yang menyebabkan berkurangnya berat badan secara drastis. Stress ini juga yang menyebabkan dia berhalusinasi dan skizofrenia, alias tidak bisa membedakan khayalan hasil asumsi dan kenyataan yang sebenarnya. Suaminya seolah selingkuh, padahal kenyataannya tidak demikian. Bahkan dia melupakan fakta bahwa suaminya sudah berhenti bekerja sebagai jaksa dan beralih menjadi pengacara.

Saya punya buku Psikologi terbitan Korea yang saya baca ketika masih SD. Penjelasannya sangat mendasar dan ambigu, sehingga sepenangkapan saya, penyakit semacam stress hanya ada di dalam pikiran saya saja. Teman les saya juga pernah berkata demikian saat teman saya yang lain mengeluh karena stress. Katanya, "Semua itu hanya ada(ilusi) di kepalamu, tidak benar-benar terjadi."

Saya percaya bahwa dia benar, namun, saya rasa ada penyebab lebih selain hanya pembayangan di otak semata. Stress biasanya dibahas dalam lingkup psikologi, namun sebenarnya stress punya keterkaitan kuat dengan fisiologi. Pasalnya stress bukan sesuatu yang hanya "dalam kepala/imajinasi" semata atau "kamu stress hanya karena merasa begitu(padahal tidak), padahal keberadaannya memang nyata.

Namanya kortisol, biasanya dibilang hormon stress. Ini yang menjadi judul cerita itu. Ada sebuah kelenjar di atas ginjal yang bernama kelenjar adrenal. Ketika kamu menerima "tekanan", amygdala memperingatkan hipotalamus, sehingga kelenjar adrenal ini mengeluarkan kortisol dalam jumlah yang banyak ke dalam peredaran darah. Ini yang menjadikan kita alert dengan sekitar, karena dampaknya dapat menyempitkan arteri, memompa jantung lebih cepat, tensi otot, menciptakan perasaan was-was. Kadang-kadang rasanya sangat menyakitkan dan menyesakkan hingga menimbulkan gejala fisik seperti sakit kepala, fatigo, kesulitan tidur, sampai penyakit jantung.

Saya akan mengutip isi buku Genom yang ditulis oleh Matt Ridley mengenai stress dan kortisol yang ternyata juga berkaitan dengan kromosom kesepuluh,

❝Akan tetapi mari kita kesampingkan dahulu hormon seks untuk membahas hormon lain yang dibuat menggunakan CYP17: yakni kortisol. Kortisol digunakan di hampir setiap sistem dalam tubuh, sebuah hormon yang secara harfiah memadukan tubuh dan pikiran dengan mengubah-ubah konfigurasi otak. Kortisol mengganggu sistem kekebalan, mengubah kepekaan telinga, hidung, dan mata, serta mengubah-ubah berbagai fungsi tubuh. Ketika banyak kortisol berkeliaran di pembuluh darah, Anda disebut sedang mengalami stress. Kortisol dan stress akhirnya dianggap sinonim.

Kenapa bisa sampai separah demikian dampaknya? Karena ini melibatkan fungsi biologis otak terhadap tubuh. Dengan hal ini, rasanya tidak benar menyepelekan korban bunuh akibat stress dengan perkataan "Halah, cuma gitu aja langsung stress, lebay,". Bisa saja kadar kortisol dan adrenalin di tubuh memang membludak dan tidak ditangani baik, sehingga sistem tubuh seperti shutting off, sakit di mana-mana karena terbiasa memendam sendiri.

Memendam persoalan sendiri pun tidak ada baiknya. Memendam "tekanan" dalam diam dapat menanam respons tarumatik yang akan terbawa-bawa hingga lama. Seseorang perlu mengeluarkan reaksi untuk menghindari terbentuknya respons traumatik ini. Sahabat saya yang dekat dan peduli, biasanya akan menyarankan untuk menangis saja, "Udah, nangis aja ngga apa-apa. Supaya enakan.". Perkataan ini jauh lebih berguna dibandingkan memarahi dan meremehkan persoalan yang dialami orang yang sedang stress.

Kalau menurut Peter A. Levine, seseorang yang ahli di bidang psikoterapi dan trauma, trauma terjadi ketika proses biologis ini overwhelmed dan orang itu tidak mampu melepas dan memroses kejadian yang stressful itu. Trauma bisa, kok, dihindari dengan respons marah, berteriak, menangis, alias keluarkan saja semua. Cara itu membuat kita bisa memroses stress secara fisik.

Apabila respons stress tidak diproses dan ditangani dengan baik, itu akan tersisa di dalam tubuh. Kemudian misal nantinya terjadi lagi situasi yang sebenarnya tidak begitu buruk dan sebenarnya mampu diatasi, justru sistem saraf malah mengingat trauma dan merespons dengan melepas hormon kortisol yang sangat banyak di lain waktu.

Untuk seseorang seusia saya, stress saya tidak jauh-jauh dari persoalan keluarga, akademik, dan finansial. Saya biasanya mengalami stress jangka pendek ketika sudah tiba giliran saya untuk maju ke panggung, menyampaikan pidato dalam sebuah kompetisi atau bersiap untuk melontarkan argumen dalam suatu lomba debat semasa SMA. Teman-teman saya juga mungkin relate, masing-masing dari kita pasti pernah mengalami stress jangka pendek ketika disuruh maju ke depan kelas untuk mempresentasikan materi kelompok. Kadang-kadang saya juga dibuat naik pitam karena kelakuan adik saya.

Outcome dari stress ini, biasanya dengan detak jantung yang balap-balapan, kaki dan tangan dingin seperti di-freezer, pikiran kacau, tiba-tiba lupa naskah pidato(hahaha). Ini terjadi karena meningkatnya hormon epinefrin dan norepinefrin. Tetapi lagi-lagi kerentanan seseorang terhadap stres memang berbeda-beda. Ada juga yang tidak mendapat tekanan stres, santuy-menyantuy, sama sekali bahkan dalam situasi yang genting. Alasannya terdapat di antara proses stress itu, entah faktor genetik, produksi hormon, atau punya cara pengendalian dan respons yang efektif. Matt Ridley juga menulis bahwa terbukti bagi orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala stress, lebih berpeluang menderita pilek dan infeksi-infeksi lain. Itulah efek kortisol yang lain, yaitu mengurangi aktivitas, jumlah, dan masa hidup sel-sel darah putih dan menghambat reaktivitas sistem kekebalan terhadap infeksi.

Pengalaman pribadi saya, saya sering mengambil libur sekolah karena sakit yang disebabkan tekanan dari stress yang overwhelming. Kadang-kadang, saya ternyata tidak mampu mengolah stres saya dengan baik "berkat" kebiasaan saya untuk memendam sendiri dan tidak berusaha untuk memrosesnya melalui respons fisik(secara sadar). Saya juga sangat rentan kedinginan bahkan dalam situasi yang kondusif, sehingga saya sering memakai jaket kemana-mana. Selain simpel, bisa menghangatkan juga.

Pengalaman orang mungkin berbeda-beda mengenai stress. Lagi-lagi kenyataannya kerentanan setiap orang terhadap stress dan penanganannya memang berbeda-beda. Keberadaan stress memang benar dan ada, bukan hanya mitos yang berkata bahwa "It's just in your head,". Prosesnya pun panjang dan melibatkan pikiran sekaligus sistem tubuh. Kutipan lain dari Matt Ridley yang saya suka dan relevan,

❝Sama halnya dengan tubuh. Anda bukan otak yang mengoperasikan tubuh dengan mengaktifkan hormon-hormon. Juga Anda bukan tubuh yang mengoperasikan genom dengan mangaktifkan reseptor-reseptor hormon. Juga Anda bukan genom yang mengoperasikan otak dengan mengaktifkan gen-gen yang berfungsi mengaktifkan hormon-hormon. Anda adalah semuanya sekaligus.

Dengan demikian, stress ini bukan sesuatu hanya ilusi dalam kepala. Bukan juga hanya sekadar aktivasi hormon oleh otak maupun genom yang memengaruhi aktivasi hormon oleh otak. Itu semua adalah sebuah psoses sekaligus oleh sistem tubuh.

Beberapa orang masih berpendapat bahwa stress adalah murni masalah kejiwaan semata, padahal menurut hasil percobaan oleh Cross dan Michaels, partisipan yang mengonsumsi teh selama stress mendapati berkurangnya anxiety sebesar 4%, sementara responden tanpa herbal teh mengalami peningkatan anxiety sebesar 25%. Secara klinis, teh memang dapat meningkatkan level serotonin dan melatonin, sehingga tubuh menjadi lebih rileks.

Banyak juga bukti lain yang menunjukkan bahwa tubuh dan jiwa adalah suatu kesatuan. Penanganannya juga tidak terbatas melalui "pendekatan" fisik melalui terapi dan obat(penanganan profesional psikiater), namun juga pendekatan emosional, yang simpel-simpel seperti manipulasi pikiran dengan hal-hal membahagiakan, membayangkan rekayasa yang menyanangkan, sentuhan fisik dari orang tersayang, bahkan kehadiran si dia saja kadang sudah seperti stress relieving.

Pada akhirnya, selain menulis untuk nostalgia kisah Kortisol oleh @felice_pen, saya berharap tulisan ini dapat sedikit "membuka" pikiran. Bahwasannya stress bukan hal yang dapat disepelekan, bukan hal yang lebay pula. Soalnya saya sering scroll Twitter dan menemukan victim blaming terhadap orang-orang yang sedang "terguncang". Dalam kasus manapun, stress adalah suatu respons yang tidak dikehendaki dan disadari. Justru pemicu stress itu yang berkuasa, bukan otak. Situasi begini memang tidak terkontrol dan kadang levelnya severe. Alih-alih menyepelekan persoalan orang yang sedang stress, sebaiknya membantu sebisanya. Kalau tidak ada kata-kata baik yang dapat dilontarkan, ya, ngga perlu berkomentar.

Untuk teman-teman yang sedang mengalami stress juga, jangan ragu untuk take your time dan memanjakan diri. Karena efeknya berpengaruh pada kesatuan tubuh dan jiwa, ending-nya pun tidak baik. Pada akhirnya, kita yang akan bertanggung jawab dengan kesehatan tubuh dan jiwa.

Saya terbuka untuk diskusi. Jangan ragu untuk hit me up!











Komentar