Trial and Error

Tulisan saya kali ini, sama seperti biasanya; tidak direncanakan. Beberapa saat lalu saya baru makan mie instan yang seharusnya digoreng, tetapi saya putuskan untuk memasak layaknya mie kuah. Tetap pedas, sehingga saya sekarang berbaring di ranjang sambil memegangi perut.

Saya bermaksud untuk tidur sebenarnya. Tetapi otak saya tampaknya tidak berkehendak. Saya bosan, sementara ponsel saya makin meredup. Jadi saya bangkit untuk menyambungnya dengan charger. Saya punya banyak hal yang lebih pening untuk saya lakukan, tetapi tentu saja, saya lebih memilih scrolling media sosial.

Belakangan ini pikiran saya berkecamuk. Terlalu banyak topik yang berseliweran di otak saya sampai saya bingung mana prioritas dan mana minoritas. Yang saya tahu, kepala saya penuh. Badan saya lelah, saya merasa tidak baik-baik saja.

Saya rasa setiap manusia pernah berada dalam posisi seperti demikian, kebingungan atas sesuatu yang bahkan tidak diketahui. Mungkin juga merasa cemas atau takut. Cemas mungkin lebih berbahaya karena pasalnya hal yang dikhawatirkan belum terjadi, namun pikiran buruk sudah menghantui. Hal ini memupuk paranoid.

Sekarang-sekarang ini saya selalu merasa FOMO(fear of missing out). Banyak hal yang saya takut lewatkan karena saya merasa performa saya tidak maksimal. Mempertanyakan "What if" berulang kali seolah saya bisa mengatur keadaan dan benar-benar beraksi alih-alih berbaring di kasur seharian.


What if I make a wrong choice? What if I did it opposite way? What if I didn't choose that way? What would happen if I do it that way? What would happen if I do it this way?

What if I've done my best, yet whatever i dreamt of, it doesn't happen?


Bahkan ketika saya berkendara, pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berkecimpung di kepala. Pertanyaan yang tentunya sia-sia tanpa jawaban, karena saya tidak pernah benar-benar melakukan apa yang saya pertanyakan karena takut akan hasil yang sudah saya asumsikan berakhir buruk atau tidak sesuai ekspektasi saya.

Saya tidak suka emosi negatif, maka saya selalu menghindari segala sesuatu yang memancing jatuhnya mood saya. Alih-alih berusaha bertindak nyata untuk menggapai apa yang saya inginkan, saya justru berbaring seharian di kamar. Karena apa-apa yang perlu usaha, rasanya seperti membebani dan membuat saya kesal.

Saya seperti memelihara Impostor dalam diri saya sendiri, merusak saya dari dalam. Tiga bulan terakhir saya lalui tanpa berbuat apa-apa yang berarti. Minggu-minggu saya isi dengan nonton film dan serial anime, karena kegiatan tersebut membuat saya nyaman dan bahagia, seolah memompa banyak serotonin.

Sayangnya kebahagiaan atas apa yang diinginkan dan bukan dibutuhkan bersifat semu. Kebahagiaan semu hanya bertahan saat terlelap, bermain gim dan menonton serial. Pada akhirnya saya tetap kembali pada kenyataan yang enggan saya hadapi, namun hidup terus berjalan.

Pikiran saya adalah apa yang merusak saya sendiri. Segala yang ada di kepala saya hanyalah asumsi yang buruk, sementara dunia tetap berjalan begitu saja, acuh pada apa yang saya asumsikan.

Saya sadar bahwa saya harus berhenti berpikir terlalu banyak dan mulai melakukan awal yang baik. Pasalnya berpikir dan berargumen dalam otak saja tidak akan membawa hasil apapun ke dunia nyata. Hanya akan membuat pemikiran dan argumen saling bentrok dan memicu sakit kepala, stress.


Take the risk, kata pikiran saya suatu kali. Setidaknya kamu tidak akan bertanya-tanya lagi karena kamu sudah melakukannya. Tidak semuanya harus sesuai ekspektasi, dunia juga tidak berevolusi mengelilingi saya.

Take the risk, katanya lagi. Sepertinya saya memang harus bangkit dan memulai untuk bergerak. Barangkali kalau motivasi mulai melemah, setidaknya saya akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya.

Manusia bukan makhluk sempurna, hidupnya pun pendek dan hanya sekali. Take the risk, kamu hanya hidup sekali saja. Gagal maupun berhasil, setidaknya ada pengalaman untuk diceritakan pada anak cucu kelak.

Siapa tahu keberanianmu justru membawa opportunity tidak terduga buat kamu? Berhenti berpikir dan berasumsi, karena kamu tidak punya kemampuan hipnosis untuk memengaruhi perputaran kehidupan. Kamu hanya akan mendapat jawaban bila bergerak dan mencoba.


Take the risk, YOLO.

Ayo sama-sama merasai trial and error.

Komentar