Unpopular Opinion: Fake People

Saya suka sendirian. Alasannya, karena saya senang bergumul dengan kegiatan sendiri dibandingkan bersama. Katakan saya individualis, saya pun tidak suka sifat saya yang satu ini. Dasarnya manusia perlu komunikasi dan timbal balik antar sesama manusia pula. Kadang-kadang hati merasa ingin lebih banyak bergerumul, tetapi secara fisik, saya merasa lelah.

Bagi saya, berbincang itu melelahkan. Segala sesuatu yang dilakukan bersama orang lain, apapun, terasa membuat saya capek. Momen hura-hura dan senang-senang hanya sesaat. Begitu pulang ke rumah, hanya lelah saja yang tertinggal. Kemudian saya akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulihkan kembali energi saya. Tampaknya, saya introvert sejati.

Sebab demikian saya jarang melangkah keluar kecuali untuk les, mengajar les, ada sebuah obligasi, atau jalan-jalan memutari kota sendirian. Faktanya, berkeliling kota adalah cara saya untuk mengisi energi sekaligus istirahat. Saya akan lelah lama-kelamaan, sehingga saya tidak akan terus-terusan berpikir yang tidak berekor, supaya saya bisa beristirahat ketika pulang nanti. Saya mungkin terlihat tidak peduli pada teman sepergumulan saya, karena saya lebih sering melakukan segala-galanya sendiri, tetapi cara saya mengasihi teman memang sedikit beda. Saya peduli, namun sulit menunjukkan. Alih-alih saya justru terlihat menjauh.

Saya menyayangi teman-teman dan sahabat saya, bagaimana pun juga sekian tahun ini saya lewati bersama mereka, berkembang bersama mereka juga. Kadang-kadang kami tidak kondusif, tetapi justru di situ kami merasakan asam-manis persahabatan.

Rasanya sudah wajar, ya, ketika seseorang dalam kelompok tidak hadir, sisanya pasi membicarai dia yang tiada. Menurut pengalaman saya sendiri, isu yang dibicarakan biasanya mengenai sifat dan sikap yang berubah, aib yang sudah sekian tahun, dan kemudian tentang betapa fake-nya si dia.


"Dia itu fake person, bertingkah begini padahal sebenarnya tidak begitu. Dia cuma pura-pura."

"Sok baik dan polos, padahal belakangnya banyak tingkah."


Saya pernah dalam posisi demikian. Teman saya mengatai saya pura-pura baik dan naif ketika semester pertama SMA. Saya tidak menyalahkan dia, saya rasa sikap saya memang kadang berubah-ubah, sesuai dengan siapa saya berbicara dan bagaimana situasinya. Saya menghargai pendapat dia tentang saya, yang sebenarnya memang benar. Dia pengamat yang baik.

Tetapi kemudian lagi, saya rasa hanya orang-orang yang belum dewasa saja yang mengatai dan men-judge orang sebagai fake people. Karena saya dan teman-teman saya pernah menghadapi situasi yang overwhelming dan tidak terkontrol, situasi tidak biasa yang memungkinkan mencuatnya emosi yang biasa tidak dikeluarkan seseorang tiba-tiba membludak. Atau dia mungkin insecure dan menemukan kenyamanan pada kamu sebagai orang yang bisa ia percayai, kemudian kamu men-capnya sebagai fake person alih-alih membantunya. Tidak bisa melabeli seseorang sebagai fake person
–dalam konteks yang negatif, seolah salah dan tidak bisa diterima–begitu saja. Ada berbagai alasan di belakangnya.

Sebenarnya, saya dalam masa transformasi menuju dewasa tentunya belum cukup hidup lama untuk menyadari bervariasinya sifat dan persona dalam satu orang yang tentunya berbeda pula dengan orang-orang yang lain. Namun kemudian, biasanya penjurian seperti ini datang dari pemikiran muda yang belum merasakan drama dunia nyata. Saya pelan-pelan juga belajar dari pengalaman saya, sedikit-sedikit.


Saya rasa penggunaan istilah fake people terlalu subjektif. Kebanyakan manusia memang menggunakan topeng, kemudian projecting themselves untuk terlihat seperti apa yang dunia ingin lihat. Alasannya simpel, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa validasi. Validasi konteksnya bukan hanya sekadar "kelegaan" spiritual, namun posisi dan "hidup" dalam lingkungan yang nyata juga terhitung. 

Kita semua bersosialisasi dengan berbagai sikap sebagai respons terhadap situasi sosial yang berbeda. Kita memakai pesona dan topeng yang berbeda pula tergantung ekspektasi dan tuntutan di tiap kondisi sosial. Bukan hal yang jarang kalau apa yang kita lakukan kadang berbentrokan dengan nilai internal yang kita punya.

Observasi–terhadap sikap orang-orang ketika bekerja sekaligus gambaran diri saya suatu hari nanti–saya, manusia mau tidak mau harus projecting fake persona sesuai bidang pekerjaan. Suka tidak suka, mereka tetap harus melayani customer dengan layak bahkan ketika mereka tidak memberi feedback yang baik. Katakanlah itu sebagai way to survive, kecuali jika lebih memilih dipecat dan kehilangan duit untuk mengisi perut.

Terlebih lagi sebagai salesperson yang harus terlihat menarik dan menawan dengan tata krama baik untuk menawarkan produk. Mereka tetap harus tersenyum bahkan ketika menerima penolakan bertubi dan mendapati pamflet promosi produk mereka di tempat sampah. Ketika berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, salesperson biasanya mondar-mandir dengan wajah ceria menawarkan brosur, topeng ceria itu tentunya dipasang kuat–game face on–untuk menutupi wajah masam dan kesal di belakangnya ketika orang-orang menolaknya.

Mempunya public persona atau sifat dan sikap yang hanya ditunjukkan pada kalangan umum, menurut saya, adalah tanda kedewasaan. Tidak semua sifat manusia dapat bebaur dengan baik. Justru menciptakan public persona dan menyesuaikan sesuai flow adalah hal yang wajib di tempat kerja. Wajar kalau satu manusia tidak suka manusia lain, kita tentunya punya preferensi dan kecocokan antar sesama yang beda, tetapi bersikap seperti lubang pantat dan tidak profesional, mementingkan ego tidak akan membuat kita berhasil. Menjadi "palsu"–dalam konteks yang baik tanpa niat bathil di belakangnya–bagaimana pun, dapat membuat kita dapat bekerjasama. Good teamwork doesn't formed by a group of egotistic people.


Sebuah teori oleh pepatah dari Jepang mengatakan bahwa manusia punya tiga wajah;

Wajah pertama ditunjukkan pada dunia dan orang asing.

Wajah kedua ditunjukkan pada sahabat, keluarga dekat, orang-orang spesial.

Wajah ketiga ditunjukkan hanya pada diri sendiri; ketika sendirian.



Orang-orang tertentu mungkin punya sekian ratus topeng yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda pula. Demikian adalah hal yang cerdas, sebab saya rasa manusia tidak mungkin bisa survive dengan mengandalkan sifat asli diri sendiri(kecuali misal saya adalah satu-satunya manusia yang hidup di dunia ini). Faktanya sebagai makhluk sosial, kita butuh orang lain. Sejak lahir dibantu oleh bidan dan dokter, dibesarkan orangtua dan keluarga, ketika jadi mayat pun butuh bantuan orang untuk menggali "kamar" terakhir dan harapan do'a. Tetaplah respect dan beretiker baik kepada orang lain meskipun dirimu aslinya busuk.

Jangan berharap ingin dihargai kalau tidak mau menghargai, egois, tidak toleran, dan simply problematic dengan alasan "Kalau tidak suka, jangan berteman dengan saya," dan embel-embel, "Saya memang orangnya begini, kalau tidak suka, ya, sudah." sebagai defense untuk sikapnya yang menyebalkan dan egois. Sementara dalam konteks yang baik dan tidak berniat buruk di baliknya, tidak apa-apa memakai topeng. Justru kebaikan yang palsu itu lama-kelamaan akan menjadi stimulasi manipulasi terhadap otak yang kemudian membentuk menjadi kebiasaan. Dengan demikian, barangkali sifat busuk itu bisa berubah menjadi lebih baik.

Menurut saya, tidak ada karakter yang benar-benar original. Semuanya tergantung pengaruh genetik dari orangtua, stimulasi dari lingkungan semasa tumbuh, pola asuh, serta media dan informasi yang dikonsumsi. Maka hal itu sebenarnya dapat berubah lagi apabila dikembangkan dalam lingkungan yang lain juga. Oxana Malaya (1991), seorang gadis yang "dibesarkan" oleh anjing-anjing setelah disiksa oleh ayahnya, juga bertingkah seperti anjing berkat stimulus lingkungannya. Oxana, gadis malang yang awalnya bersikap seperti manusia kebayanyan, berubah pelan-pelan sesuai lingkungannya. Kita juga most likely tidak jauh berbeda dengan  orang-orang selingkungan juga.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa karyawan sampah yang sebenarnya kasar dan jorok, kemudian bersikap baik dan hormat di depan bosnya adalah sifat yang palsu. Saya lebih senang menyebutnya beretika dan punya mannerisms yang baik.

Sulit bersikap sama terhadap semua orang. Kadang-kadang ego memang perlu ditekan. Secara pribadi, saya tidak peduli seberapa busuk sifat asli orang yang sedang berbicara dengan saya. Selama dia beretika dan punya manner yang baik, saya tidak punya alasan untuk bersikap buruk padanya.

Biar dia mengatai hal buruk mengenai saya di belakang punggung saya, tidak masalah. Hal itu tidak berpengaruh buat saya karena apa yang dia katakan hanyalah asumsi sementara diri sayalah yang nyata. Tidak jarang pula 
perkataan buruk tentang saya memang benar, dan saya menerima cacat dalam diri saya sebagai manusia yang tidak sempurna. Saya menghargai penilaian orang dan memilih introspeksi diri saja.

Walau begitu, orang-orang tidak pernah tahu diri saya yang sebenarnya, karena saya hanya mengeluarkan sifat asli ketika saya sendirian. Bahkan orang tua saya pun tidak tahu. Sama seperti kamu, kamu juga pasti punya sifat yang hanya kamu sendiri yang tahu.

Saya malas bersusah-susah mencari, mengkepoi dan menggali sifat asli seseorang. Persona manusia itu banyak dan dapat dibentuk, kita mungkin tidak pernah akan benar-benar tahu sifat asli seseorang. Saya berkata demikian karena saya tahu teman-teman saya pun tidak tahu sifat saya yang sebenarnya.

Sebagai spesies sosial, kamu ingin menemukan orang yang tidak palsu? Silakan tinggal di planet lain.

Terima saja bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang berbeda. Manusia itu makhluk yang dinamis. Kamu benci fake people namun tanpa sadar juga berinteraksi dengan mereka. Kita adalah orang yang berbeda-beda, tergantung dengan siapa kita berinteraksi. Kemampuan bunglon untuk beradaptasi adalah kekuatan, bukan cacat.


Orang-orang punya personaliti yang beda terhadap situasi dan konfrontasi yang berbeda pula.


Kita adalah protagonis dan antagonis sekaligus terhadap orang yang berbeda. Seseorang yang mungkin kita anggap fake justru mungkin menilai kita fake juga. Baik dan jahat itu blur seperi warna abu-abu. Kadang di pertemanan yang umum, kita saling melempar label "tidak baik" pada suatu lingkar pertemanan lain, dan mereka juga melabeli kita seperti itu. Padahal mungkin saja tidak ada yang jahat, tetapi frekuensinya saja yang beda.

Hati-hati terhadap orang yang bersembunyi dibalik persona untuk niat licik dan niat memanipulasi orang lain. Ada juga yang seperti ini untuk berniat menjatuhkan. Tidak ada manusia yang benar-benar baik dan benar-benar jahat kecuali Nabi Muhammad sebagai manusia yang sempurna. Teman dekat pun bisa saja memanipulasi untuk menjatuhkan. Kebanyakan sebenarnya hanya berusaha untuk menyesuaikan dengan keadaan, tetapi kadang ada yang punya intensi buruk. Layer per layer topeng dapat diturunkan kepada orang terdekat dan terpercaya. Tetap waspada pada pemilihan teman. Semakin lama hidup, kita juga akan merasakannya sendiri tentang perbedaan dan kompleksitas manusia.

Intinya saya tidak akan melabeli seseorang sebagai fake person, karena konteksnya, dilihat dari mana pun terkesan negatif dan buruk. Tidak ada yang namanya fake people. Sadarkah, kalau menilai seseorang sebagai fake, berarti kamu punya standar tersendiri dalam menjurikan seseorang, justru mungkin kamu sendiri yang fake, seolah kamu tahu sifat sebenarnya orang tersebut sementara itu hanyalah asumsi saja, seolah dirimu yang paling asli dan benar.

Menurut saya ada baiknya untuk memasang topeng, selama tidak ada niat buruk dan tidak menyakiti orang lain, dan kamu tahu sendiri bahwa kamu melakukan hal yang benar. Tentu saja topeng itu tidak perlu dipakai selamanya. Ketika nanti menemui orang-orang yang bisa kamu percaya untuk menunjukkan diri dan vice versa, di mana kita tidak perlu memakai topeng untuk saling menerima. Sayangi mereka, yang seperti ini tidak banyak di dunia, bahkan mungkin hanya terhitung jari.

Untuk teman-teman saya yang membaca ini, saya peduli sama kamu dan mencoba untuk menghargai kamu sebaik-baiknya. Saya yakin setiap manusia berhak dihargai dan menghargai orang lain pula. Saya tidak punya niat buruk apapun di belakangnya.

Sampai sekarang saya masih suka jalan-jalan malam sampai ke bandara dan pelabuhan. Demikian ini hasil pemikiran tidak penting saya saat itu.

Komentar